
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati perjalanan berani Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia, terutama hak untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Dengan penuh keberanian, R.A. Kartini terus memperjuangkan gagasan bahwa perempuan terdidik merupakan fondasi bangsa yang kuat. Gagasan ini kemudian didukung juga oleh tokoh Belanda, seperti J.H. Abendanon, untuk disebarkan ke seluruh penduduk di Indonesia.
Kemudian, di era modern ini, tongkat estafet perjuangan ini terlihat pada seorang model cantik di Indonesia, Cinta Laura Kiehl. Cinta tidak hanya dikenal karena keahliannya di berbagai dunia hiburan, tetapi juga karena sering mengingatkan kita semua bahwa menjadi orang yang berpendidikan sangat penting. Baginya, menjadi seorang wanita berarti memiliki keberanian untuk belajar, berpikir kritis, dan menentukan jalan hidupnya sendiri secara mandiri. Pendidikan bukan sekadar mendapatkan deretan gelar akademis, melainkan agar kita, para perempuan Indonesia, lebih berani mengemukakan pendapat dan lebih dihargai oleh siapa pun. Hal ini ia buktikan melalui aksi nyata dengan langsung turun tangan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Dedikasi dalam mengelola yayasan Soekaseno Foundation
Jauh dari sorot lampu panggung, Cinta secara konsisten mengelola yayasan keluarga yang membantu membangun dan merenovasi sekolah-sekolah di daerah terpencil. Ia memahami bahwa akses pendidikan yang layak adalah hak setiap anak, tanpa memandang lokasi geografis.
Membangun kemandirian melalui berbagai kampanye sosial
Dalam berbagai kampanye sosialnya, Cinta selalu menekankan bahwa dengan berpendidikan, perempuan tidak akan mudah digoyahkan. Pendidikan memberikan kemandirian ekonomi dan mental, sehingga perempuan mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Meningkatka pemahaman digital literasi
Di tengah gempuran tren digital, ia terus mendorong generasi muda melalui berbagai platform media sosialnya untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana literasi. Baginya, perempuan yang cerdas adalah perempuan yang mampu menjaga martabatnya dengan wawasan yang luas.
Semangat mandiri yang dijunjung Cinta Laura sebenarnya berlaku untuk semua perempuan di segala usia. Pendidikan dan wawasan yang luas adalah aset abadi yang memungkinkan setiap perempuan untuk tetap memiliki ‘suara’ dan menjaga martabatnya, bahkan saat kita memasuki masa senja. Kontribusi perempuan Indonesia sebagai agen perubahan perlu diperkuat melalui dukungan nyata terhadap pendidikan serta penciptaan ruang gerak yang setara.
