Sahabat OTO, pernahkah kamu merasa orang tua atau lansia di rumah menjadi lebih sensitif, gampang marah atau tersinggung? Padahal kamus udah memberikan yang terbaik, namun di mata mereka masih saja salah atau tidak sesuai dengan kehendak mereka. Tentu hal ini membuat caregiver lelah, bingung dan serba salah.
Sebelum kamu terbawa emosi, perlu diingat bahwa ada banyak faktor fisik dan psikologis yang menyebabkan lansia menjadi “pemarah”, diantaranya:
- Perubahan Fisik dan Kesehatan
Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami banyak perubuhan, seperti penurunan penglihatan, pendengaran, tubuh jadi gampang lelah dan lain-lain yang membuat lansia tidak nyaman. Hal ini memengaruhi suasana hari sehingga lansia menjadi sensitif dan mudah marah.
- Kehilangan Kendali atas Diri Sendiri
Hal-hal sederhana yang dulu bisa dilakukan dengan mudah seperti memakai baju, berjalan ke kamar mandi, namun kini harus dilakukan dengan bantuan orang lain. Rasa ketergantungan ini membuat lansia rendah diri dan memicu frustasi, sehingga terekspresikan melalui kemarahan.
- Penurunan Daya Ingat
Ketika lansia mengalami penurunan daya ingat atau memori, seringkali menimbulkan kebingungan yang berdampak pada stabilitas emosi. Contohnya, ketika lansia lupa menyimpan sesuatu lupa janji, atau bahkan lupa dengan rutinitas harian. Rasa bingung, cemas, dan takut karena merasa “kehilangan jati diri” ini sering kali memicu respons kemarahan.
- Kesepian dan Kurang Perhatian
Banyak lansia yang merasa kesepian karena anak-anak atau cucu-cucunya sibuka dengan kehidupannya masing-masing. Hal ini menyebabkan lansia merasa kurang perhatian hingga merasa tida dihargai. Kemarahan adalah cara mereka untuk “mencari perhatian” atau memastikan bahwa kehadiran mereka masih diakui oleh orang-orang di sekitarnya.
Untuk menghadapi kemarahan lansia, jangan balas dengan emosi juga, karena justru hal ini bisa membuat jarak semakin jauh. Jadi, yang bisa kamu lakukan adalah:
- Dengarkan dan validasi perasaan mereka
- Cari pemicunya, apakah karena lapar, sakit, kelelahan atau merasa tidak nyaman.
- Berikan rasa aman dan nyaman dengan memberikan perhatian dan memperlakukannya dengan baik (tanpa membuat merasa menjadi beban bagi orang lain)
- Ciptakan rutinitas, karena lansia merasa lebih tenang jika tahu apa yang akan mereka jalani hari ini. Rutinitas yang terprediksi akan mengurangi rasa bingung dan cemas yang memicu marah.
Menghadapi lansia yang mudah marah memang membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, penting untuk dipahami bahwa perubahan perilaku tersebut sering kali bukan menunjukkan sifat asli mereka, melainkan dampak dari kondisi fisik dan emosional yang mulai menurun. Sebagai keluarga maupun caregiver, yang paling dibutuhkan adalah sikap penuh pengertian dan empati, bukan sekadar penilaian atau amarah balik.

